27 July 2019

Buat Apa Sih Capek-Capek Menulis?



Sekitar lima tahun silam saya pernah mengalami situasi ingin berhenti menulis dan bertekad tidak akan menulis lagi. Sebab saya merasa lelah mengejar kualitas tulisan yang bagus.

Mungkin, pikir saya waktu itu, sudahlah, mending pilih kegemaran lain yang lebih konkret. Memancing di kolam galatama atau memelihara burung kenari, misal.

Komitmen berhenti menulis itu bertahan seminggu, setelah itu saya sakit demam dan tensi darah saya tinggi lagi. Semacam saluran air kamar mandi yang tersumbat kusut rambut, sobekan bungkus sampo, dan sabun batang yang sudah kecil; telanjur sulit untuk digosokkan ke badan sehingga dibuang saja.

Pada saat itu saya sadar, mungkin menulis bagi saya semacam kapsul jeda untuk menuangkan gagasan, hingga keresahan yang terkesan tabu dielaborasikan untuk didengarkan mentah-mentah oleh orang sekitar saya, sebab belum tentu mereka memahami bagaimana otak saya bekerja, keluarga besar sekalipun.

Keajaiban atau katakanlah kenikmatan yang terjadi setelah menulis, alur pikir saya jadi lancar dan saya lebih mudah menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa sesederhana mungkin.

Dan ajaibnya lagi, semakin sering seseorang menulis, hasilnya tidak sama dengan semakin sering seseorang berbelanja.[]

Catatan: Ini adalah salinan jawaban saya di Quora untuk pertanyaan Apa kenikmatan yang bisa anda dapatkan dari menulis?

Sumber gambar: Pexels

0 Komentar:

Post a comment