Berusaha Menjalani Normal yang Baru



Menjalani hari-hari beberapa bulan belakangan saya merasakannya sebagai hari-hari yang sarat kebencian. Muak sekaligus mual. Membuka mata di setiap pagi hari seperti mengangkat beban seberat sekarung puing yang sia-sia dan tidak ada harganya untuk saya angkat pagi itu. Hari demi hari adalah keterpaksaan.

Hampir setiap hari saya bercerita ke istri terkait keresahan saya sejak pertengahan hingga akhir tahun kemarin. Respons istri adalah helaan napas, namun biasanya ia dengan tulusnya menenangkan, "Sabar ya, kamu pasti kuat."

Saya berusaha menguat-nguatkan diri, terutama menguatkan mental saya, sebab baru saya sadari, kesehatan mental yang terganggu itu imbasnya ke mana-mana. Berpengaruh langsung ke otak yang makin tumpul buat diajak mikir keras di luar jam kerja, sehingga sepulang kerja kebiasaan saya adalah langsung rebahan di kasur menonton video-video di Youtube sampai ketiduran kemudian pukul tiga pagi dibangunkan alarm hape istri yang sengaja ia pasang untuk membangunkan saya salat Isya yang kepagian.

Dan tentu saja efek samping dari hal tersebut adalah: sering banget dicemberutin istri lantaran saya dianggap males ngajak main anak sepulang kerja. Bukan apa-apa, jujur saja, saya capek. Bukan karena gak sayang anak, tapi energinya udah habis seharian.

Mental saya yang lemah ini pun berpengaruh juga ke badan saya yang makin melar. Sebab pelarian stres paling mudah dan paling cepat adalah makan. Saya sudah beberapa kali mencoba aneka metode diet. Beberapa pekan dicoba, turun 3 kilo, tetapi kemudian saya gak mampu mempertahankan konsistensi, sehingga badan malah naik lagi 8 kilo. Bukannya minus, malah surplus.

Sumpah, salah satu kegagalan dari masih banyak kegagalan lainnya ini rasanya menyedihkan sekali, apalagi ketika saya harus merelakan baju-baju dan celana kesayangan saya yang udah gak muat, serta harus merelakan setiap harinya mengenakan baju dan celana yang itu-itu saja karena yang masih muat ya itu-itu juga. Mau beli baju baru, mikir-mikir dulu, mendingan buat beli beras atau sembako, jauh lebih penting, apa lagi di tengah situasi sulit sedunia kayak sekarang.

Udah mah hidup emang udah berat, eh ini ada Coronavirus. Gara-gara Coronavirus yang sekarang udah mewabah di Indonesia yang mula-mula dianggap remeh segelintir pemegang kepentingan itu, saya makin benci mereka. Saya makin benci kepalsuan. Saya makin benci kepura-puraan. Saya makin benci kekuasaan.

Mengapa sulit sekali menemukan seseorang bijak yang rutin mengaplikasikan apa yang diajarkan guru-guru saya dulu terkait perbuatan-perbuatan terpuji di pengajaran Kewarganegaraan? Perasaan dulu enggak pernah diajarkan berbohong? Perasaan dulu kami selalu diajarkan untuk melindungi dan mengayomi yang lemah? Dan ungkapan yang masih saya ingat sampai sekarang adalah Tong Kosong Nyaring Bunyinya, tapi kenapa kini semua hal semuanya kosong?

Kini semua orang dipaksa bekerja sendiri-sendiri, berusaha sendiri-sendiri, bertahan hidup sendiri-sendiri, menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri, dan menanggung risiko hidupnya sendiri-sendiri.

Nuansa hari-hari sejak diterapkannya kebijakan social distancing atau physical distancing atau apalah itu istilah yang diusung pengambil kebijakan makin terasa menyesakkan, dan lama-lama menyebalkan juga, ingin rasanya memberontak. Meskipun saya lebih sering dan lebih senang di rumah, tapi percayalah, kalau otak dan mentalmu masih dalam kondisi lemah, privilage untuk bisa di rumah aja dengan gaji yang tetap mengalir itu tidak akan sekejap menyulap rumput liar yang semrawut menjadi surga yang nyaman.

*

Masih banyak masalah-masalah hidup lain yang sangat "Bapak-bapak" yang mungkin menurut orang adalah aib yang tidak perlu diceritakan ke khalayak netizen. Tapi ya, dipendem juga lama-lama jadi penyakit di dalam hati. Itulah alasan saya kembali membuka kembali blog ini yang sudah saya jadikan semacam catatan harian sejak saya masih usia 20an awal, hingga kini menjelang 30 tahun.

Saya pikir-pikir lagi, saya renung-renung lagi, sepertinya saya tidak bisa tidak menulis di sini. Mustahil saya berhenti menulis. Suara hati yang setiap hari bergolak, dorongannya terlampau kuat untuk dibendung. Meski menurut Generasi Baby Boomers dan Generasi X, seorang laki-laki tidak patut bermelow-melow, tidak patut mengeluh, laki-laki, apalagi setelah menjadi seorang kepala keluarga itu harus kuat, setidaknya terlihat kuat.

Lah, lo pikir Subagio Sastrowardoyo menulis puisinya bukan dari keresahan dan kegalauan Generasi lo? Lo kira Rinto Harahap dan Betharia Sonatha, penyanyi super melow dari generasi lo itu bakalan eksis kalau dia enggak galau? Kali-kali empati dikit dong, jangan maunya dihormatin melulu! Mentang-mentang udah mapan.

*

Coronavirus, diengga-engga juga, makin memperparah keadaan dan situasi kehidupan saya awal bulan Maret kemarin. Entah kejutan apa lagi sih ini. Tapi setidaknya, saya menabah-nabah diri, kali ini saya enggak sendirian. Kini semua orang, tak peduli kaya, miskin, kelas menengah ngehek atau kelas pekerja seperti saya, semuanya terdampak, meskipun ya, yang kaya lebih tenang karena punya aset dan tabungan, tidak seperti middle low yang sudah cukup banyak yang dirumahkan bahkan dipecat terang-terangan dan langsung disambut oleh hantu-hantu cicilan.

Untuk merayakan situasi yang tidak normal yang terpaksa kita anggap normal saat ini, mari kita dengarkan lagu terbaru Efek Rumah Kaca berjudul "Normal Yang Baru". Ya, mungkin saya harus mulai menganggap keganjilan-keganjilan yang saya hadapi belakangan sebagai sebuah kenormalan yang baru.[]

----

Dengarkan juga versi podcast-nya di Podcast Keluar Rumah Episode 7:



Sumber foto: Pexels

Comments