3 Alasan Mengapa Desain Grafis yang "Gratis" Itu Peluang Emas bagi Masa Depanmu dan Bukanlah Penghinaan Apalagi Eksploitasi


Sebagai desainer grafis atau mungkin kamu yang mulai tertarik dengan dunia desain grafis meskipun kamu tidak mengenyam pendidikan di DKV, desain produk atau seni rupa secara akademis, tentu kamu pengennya dibayar dong ya?

Dibayar atas semua jerih payah pekerjaan yang sudah kamu lakukan.


Apalagi, pekerjaan itu berasal dari request atau demand orang lain atau katakanlah klien yang sedang membutuhkan jasa itu kemudian memutuskan menyuruhmu untuk mengerjakannya secara profesional.

Namun demikian, Penulis punya pandangan lain.


Berdasar pengalaman Penulis ketika mengawali karier informal sebagai desainer grafis "cabutan" dengan skill desain apa adanya di korporat, dengan skill yang dibangun pelan-pelan dengan cara searching-searching tutorial desain grafis di YouTube (dan seringnya menonton tutorial yang dibuat oleh orang-orang yang ngomong English dengan aksen India yang terdengar jenaka itu), sepertinya agar keahlian kita di-notice orang lain, kita mesti give dulu, baru deh kita take.

Give first, take later.

Ya, sebelum kita dapat memetik hasil, kita perlu ngasih dulu value yang kita punya semaksimal mungkin ke sebanyak-banyaknya orang, barulah orang lain bakal menyadari value kita.

Sehingga setelah mereka mulai sadar bahwa value kita berharga bagi urusan mereka, kelak mereka mulai berani membayar value kita dengan nominal cuan sekian rupiah atau bukan tak mungkin dengan nominal sekian dollar.


Hal tersebut besar kemungkinan terjadi bagi kita, termasuk Penulis, yang memulai mendesain secara otodidak.

Sebagian besar dari kita sebagai desainer otodidak memulai karier desain dengan tanpa bayaran alias desain gratis.

Barulah kemudian nanti kamu, termasuk Penulis baru akan menyadari keahlian kita itu bernilai ketika ada orang lain yang meminta kita membuatkan desain berdasarkan permintaan dan kebutuhan mereka.

Misalkan, kamu bekerja di suatu perusahaan sebagai admin biasa.

Pada suatu waktu, bos kamu lagi bikin laporan per kuartal untuk disajikan ke Direksi berupa file presentasi, dan ia butuh memvisualisasikan data-data pencapaian kinerja departemen yang ia bawahi melalui media infografis.


Sementara itu, bos kamu gak begitu ahli dalam perkara ngotak-ngatik aplikasi Adobe Illustrator, CorelDraw, atau mungkin bikin desain di Canva pun dia males, atau gak kepikiran.

Alasannya, tentu saja waktu.

Kita ketahui sendiri, seorang bos atau pekerja level managerial pastinya mengemban load pekerjaan dan mesti menghadapi schedule meeting yang begitu padat tiap harinya.

Mana sempat mereka ngurusin printilan semacam infografis, meskipun hal tersebut masihlah vital peranannya untuk mendukung pekerjaannya berupa laporan per kuartal kepada Direksi, tapi tetap saja ia harus mendelegasikan pekerjaannya pada orang lain.

Bisa kamu tebak, bos kamu bakal minta tolong ke siapa kalo dia lagi butuh dibikinin infografis?

Pertama yang paling dekat, tentu saja kamu sebagai bawahannya.

Lantas, apakah kamu bakal menerima tugasnya?

Atau justru menolaknya?

Menolak dengan dalih,

Desain Grafis Bukan Desain Gratis!

Jika kamu memilih jawaban kedua padahal sejujurnya kamu cukup menguasai aspek-aspek dasar desain grafis, dan kamu lebih dari dua-tiga kali menjawab jawaban kedua, mungkin kamu gak bakalan disuruh-suruh bos kamu lagi.

Alias, kamu gak bakal dipercaya lagi kerja sama dia.

Selamanya, sampai kamu gak betah dan akhirnya kamu memutuskan untuk pindah kantor.

*

Berdasarkan apa yang Penulis alami, Penulis ingin berbagi perihal benefit jika kamu rela untuk mengerjakan desain grafis secara gratis di luar jobdesc yang kamu emban sehari-harinya di kantor.

Namun tentu saja dengan catatan, ini terjadi di awal-awal karier kamu ya, dan tentunya jika load pekerjaan kamu sedang tak terlalu padat sehingga otak kamu masih bisa meng-handle pekerjaan tambahan berupa infografis tersebut dengan optimal, tanpa harus mengorbankan pekerjaan utama kamu.

Jika kamu sudah masuk dalam kategori "desainer mastah" sehingga udah pede dan mulai jual mahal dengan skill kamu, silakan abaikan keseluruhan isi tulisan ini.

Tulisan ini bukan ditujukan untukmu.

1. Belajar Menganalisis Masalah dan Mencari Pemecahan Permasalahannya


Desain grafis bukanlah sekadar mengambar-gambar gak jelas tanpa tujuan seperti menggambar bebas berupa pemandangan gunung terbelah oleh jalan dan ada matahari nongol di tengah-tengah gunung tersebut. 

Desain grafis punya aturan-aturan tersendiri yang perlu dipelajari bahkan wajib dipatuhi (makanya ada jurusan kuliah DKV atau seni grafis komersial, sebab memang lingkup desain secara ideal terdiri dari serangkaian teori yang harus dipelajari dan diterapkan), bahkan masing-masing orang, brand atau korporasi punya pakem desain sendiri-sendiri.

Desain grafis ada di dunia ini karena ada masalah yang harus dipecahkan. Dan desain grafis lahir sebagai solusi pemecahan masalah tersebut.

Apa contoh masalahnya?

Misal, case bos kamu itu, kita dapat menyimpulkan bahwa problemnya adalah dia kesulitan dalam menyederhanakan data-data kuantitatif & kualitatif yang sering kali njlimet bagi orang awam, bikin malesin untuk dibaca, sehingga dia perlu mengubahnya ke dalam sebuah konten visual yang mudah dimengerti oleh target audiens sehingga pesannya tersampaikan.

Sebagai anak buahnya, kamulah yang dipercaya untuk memecahkan masalah bos kamu yang tidak memungkinkan untuk ia pecahkan sendiri.

Dengan alasan kurangnya keahlian bosmu dalam mendesain, melayout, serta minimnya waktu untuk mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian.

2. Belajar Membaca Taste atau Selera dan Kebutuhan Pengguna Jasa Desain Kita


Meskipun mendesain gratisan terkesan seperti "main-main", percayalah, desain grafis adalah pekerjaan yang sangat serius. Mulai dari ideation hingga execution, termasuk serius dalam memahami selera dan kebutuhan si pengguna jasa kita, yang kerap berbeda-beda satu sama lain.

Misalkan target audiens bos kamu adalah Direktur, tentu kita gak mungkin dong menggunakan dekorasi-dekorasi atau pernik-pernik cute ke dalam media infografis yang akan kita buat.

Tentunya, saat kita mendesain kita bakal berkiblat ke style desain yang biasa terhampar di annual report perusahaan, company profile, environment report, atau dokumen-dokumen bisnis ala management consulting terkemuka seperti McKinsey dan BCG yang citra visualnya tampak sederhana, namun kesan dan pesan yang kita tangkap tetap berwibawa dan fungsional, cocok untuk dibaca oleh audiens level-level top management alias C-Level.

Jam terbang dalam memahami selera dan menyesuaikan style desain dengan tujuan audiens yang beragam, tentunya merupakan privilege tersendiri buat kamu yang kini mungkin sedang jadi desainer cabutan.

Meskipun sekarang cuman cabutan, namun siapa tahu 2-3 tahun kemudian kamu jadi desainer beneran? 

Atau mungkin kelak kamu malah jadi bosnya desainer-desainer yang mengenyam ilmu bertahun-tahun di bangku kuliah?

Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi kembali lagi, itu tergantung pada niat dan usahamu.

3. Kebaikan Menyebar dari Mulut ke Mulut, Begitu Pun dengan Keahlian


Katakanlah kamu menyanggupi apa yang disuruh oleh bos kamu, dan kamu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, eh ndilalah bos kamu senang dan puas dengan hasil pekerjaan berupa infografis yang kamu buat.

Selanjutnya, apa yang terjadi?

Kepuasan dia pada pekerjaanmu bakal menyebar dengan cepat ke circle-circle terdekatnya.

Pertama, kepuasan bosmu pada pekerjaanmu akan menyebar ke koleganya sesama level managerial. Kemudian lama-lama sampai juga ke telinga Bapak/Ibu Direktur, sebab infografis yang kamu buatkan untuk bos kamu tersebut ternyata membuat Bapak/Ibu Direktur terkesan dengan infografis yang kamu bikin secara gratisan itu.

Dan Bapak/Ibu Direktur pun akan penasaran sehingga ia bertanya pada bosmu, "Siapa nih yang bikin infografis kemarin? Kok bagus dan kekinian, biasanya presentasi lo kan bosenin."

Di circle orang-orang para pengambil keputusan atau para decision maker, sebuah keburukan memang mudah menyebar, namun hukum yang sama pun terjadi  dengan kebaikan yang juga akan mudah menyebar dari mulut ke mulut.

Lama-lama namamu pun sampai ke telinga Bapak/Ibu Direktur, dan keahlian kamu pun mulai proven di mata dan benak seorang decison maker yang punya kuasa tertinggi.

Jika demikian, perlahan, tentunya kamu punya kepercayaan diri yang mulai meningkat, bukan?

Jika demikian, tentunya kamu bakal punya tambahan portofolio untuk dipresentasikan pada calon-calon klien kelak yang berpotensi membutuhkan jasamu dan berani membayarmu. 

Sebab kamu sudah berhasil memberikan value pada seseorang yang punya role penting yang memang membutuhkan keahlian kamu.

Dan di titik itulah kamu mulai sadar bahwa keahlianmu punya value yang berharga.

Semua itu diawali oleh Desain Gratis.[]

Post a Comment

Previous Post Next Post