04 April 2020

Berusaha Menjalani Normal yang Baru



Menjalani hari-hari beberapa bulan belakangan saya merasakannya sebagai hari-hari yang sarat kebencian. Muak sekaligus mual. Membuka mata di setiap pagi hari seperti mengangkat beban seberat sekarung puing yang sia-sia dan tidak ada harganya untuk saya angkat pagi itu. Hari demi hari adalah keterpaksaan.

Hampir setiap hari saya bercerita ke istri terkait keresahan saya sejak pertengahan hingga akhir tahun kemarin. Respons istri adalah helaan napas, namun biasanya ia dengan tulusnya menenangkan, "Sabar ya, kamu pasti kuat."

Saya berusaha menguat-nguatkan diri, terutama menguatkan mental saya, sebab baru saya sadari, kesehatan mental yang terganggu itu imbasnya ke mana-mana. Berpengaruh langsung ke otak yang makin tumpul buat diajak mikir keras di luar jam kerja, sehingga sepulang kerja kebiasaan saya adalah langsung rebahan di kasur menonton video-video di Youtube sampai ketiduran kemudian pukul tiga pagi dibangunkan alarm hape istri yang sengaja ia pasang untuk membangunkan saya salat Isya yang kepagian.

Dan tentu saja efek samping dari hal tersebut adalah: sering banget dicemberutin istri lantaran saya dianggap males ngajak main anak sepulang kerja. Bukan apa-apa, jujur saja, saya capek. Bukan karena gak sayang anak, tapi energinya udah habis seharian.

Mental saya yang lemah ini pun berpengaruh juga ke badan saya yang makin melar. Sebab pelarian stres paling mudah dan paling cepat adalah makan. Saya sudah beberapa kali mencoba aneka metode diet. Beberapa pekan dicoba, turun 3 kilo, tetapi kemudian saya gak mampu mempertahankan konsistensi, sehingga badan malah naik lagi 8 kilo. Bukannya minus, malah surplus.

Sumpah, salah satu kegagalan dari masih banyak kegagalan lainnya ini rasanya menyedihkan sekali, apalagi ketika saya harus merelakan baju-baju dan celana kesayangan saya yang udah gak muat, serta harus merelakan setiap harinya mengenakan baju dan celana yang itu-itu saja karena yang masih muat ya itu-itu juga. Mau beli baju baru, mikir-mikir dulu, mendingan buat beli beras atau sembako, jauh lebih penting, apa lagi di tengah situasi sulit sedunia kayak sekarang.

Udah mah hidup emang udah berat, eh ini ada Coronavirus. Gara-gara Coronavirus yang sekarang udah mewabah di Indonesia yang mula-mula dianggap remeh segelintir pemegang kepentingan itu, saya makin benci mereka. Saya makin benci kepalsuan. Saya makin benci kepura-puraan. Saya makin benci kekuasaan.

Mengapa sulit sekali menemukan seseorang bijak yang rutin mengaplikasikan apa yang diajarkan guru-guru saya dulu terkait perbuatan-perbuatan terpuji di pengajaran Kewarganegaraan? Perasaan dulu enggak pernah diajarkan berbohong? Perasaan dulu kami selalu diajarkan untuk melindungi dan mengayomi yang lemah? Dan ungkapan yang masih saya ingat sampai sekarang adalah Tong Kosong Nyaring Bunyinya, tapi kenapa kini semua hal semuanya kosong?

Kini semua orang dipaksa bekerja sendiri-sendiri, berusaha sendiri-sendiri, bertahan hidup sendiri-sendiri, menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri, dan menanggung risiko hidupnya sendiri-sendiri.

Nuansa hari-hari sejak diterapkannya kebijakan social distancing atau physical distancing atau apalah itu istilah yang diusung pengambil kebijakan makin terasa menyesakkan, dan lama-lama menyebalkan juga, ingin rasanya memberontak. Meskipun saya lebih sering dan lebih senang di rumah, tapi percayalah, kalau otak dan mentalmu masih dalam kondisi lemah, privilage untuk bisa di rumah aja dengan gaji yang tetap mengalir itu tidak akan sekejap menyulap rumput liar yang semrawut menjadi surga yang nyaman.

*

Masih banyak masalah-masalah hidup lain yang sangat "Bapak-bapak" yang mungkin menurut orang adalah aib yang tidak perlu diceritakan ke khalayak netizen. Tapi ya, dipendem juga lama-lama jadi penyakit di dalam hati. Itulah alasan saya kembali membuka kembali blog ini yang sudah saya jadikan semacam catatan harian sejak saya masih usia 20an awal, hingga kini menjelang 30 tahun.

Saya pikir-pikir lagi, saya renung-renung lagi, sepertinya saya tidak bisa tidak menulis di sini. Mustahil saya berhenti menulis. Suara hati yang setiap hari bergolak, dorongannya terlampau kuat untuk dibendung. Meski menurut Generasi Baby Boomers dan Generasi X, seorang laki-laki tidak patut bermelow-melow, tidak patut mengeluh, laki-laki, apalagi setelah menjadi seorang kepala keluarga itu harus kuat, setidaknya terlihat kuat.

Lah, lo pikir Subagio Sastrowardoyo menulis puisinya bukan dari keresahan dan kegalauan Generasi lo? Lo kira Rinto Harahap dan Betharia Sonatha, penyanyi super melow dari generasi lo itu bakalan eksis kalau dia enggak galau? Kali-kali empati dikit dong, jangan maunya dihormatin melulu! Mentang-mentang udah mapan.

*

Coronavirus, diengga-engga juga, makin memperparah keadaan dan situasi kehidupan saya awal bulan Maret kemarin. Entah kejutan apa lagi sih ini. Tapi setidaknya, saya menabah-nabah diri, kali ini saya enggak sendirian. Kini semua orang, tak peduli kaya, miskin, kelas menengah ngehek atau kelas pekerja seperti saya, semuanya terdampak, meskipun ya, yang kaya lebih tenang karena punya aset dan tabungan, tidak seperti middle low yang sudah cukup banyak yang dirumahkan bahkan dipecat terang-terangan dan langsung disambut oleh hantu-hantu cicilan.

Untuk merayakan situasi yang tidak normal yang terpaksa kita anggap normal saat ini, mari kita dengarkan lagu terbaru Efek Rumah Kaca berjudul "Normal Yang Baru". Ya, mungkin saya harus mulai menganggap keganjilan-keganjilan yang saya hadapi belakangan sebagai sebuah kenormalan yang baru.[]

----

Dengarkan juga versi podcast-nya di Podcast Keluar Rumah Episode 7:



Sumber foto: Pexels

01 April 2020

Perubahan Kebiasaan Setelah Menikah dan Punya Anak



Kebiasaan apa saja yang berubah setelah menikah dan punya anak?

Dalam Podcast Keluar Rumah Episode 5 kali ini, saya mengajak istri ngobrol tentang perubahan-perubahan apa saja yang kami rasakan sebagai istri & suami setelah menikah dan kemudian punya anak.



*

Podcast Keluar Rumah dibawakan oleh saya, Cepy, merupakan podcast yang membahas sisi lain kultur dan kebiasaan masyarakat daerah sekitar ketika saya keluar rumah; kegiatan yang sebenarnya malas saya lakukan.

Klik di sini untuk mendengarkan langsung di platform Spotify.

----

Credits: Musik yang dipakai di episode ini adalah "Sweeter Vermouth" karya Kevin MacLeod (incompetech.filmmusic.io). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

29 March 2020

Pertanyaan di Tengah Situasi Sulit: Apa yang Kamu Kejar di Dunia Ini?



Selalu ada pertanyaan yang muncul di tengah situasi apa pun, apa lagi di tengah situasi sulit dan penuh ketidakpastian seperti saat ini. Apa sih yang kita kejar di dunia ini? Harta? Tahta? Renjana? Atau kebahagiaan?

Pada Podcast Keluar Rumah episode ketiga kali ini, saya mengudar keresahan dengan coba menerka-nerka jawaban dari pertanyaan mendasar tersebut yang berat sekali untuk dijawab sebatas dengan logika. Sehingga mohon maklum di sepanjang rekaman episode ini banyak sekali dengus napas, decap lidah, dan nada-nada skeptis dari mulut saya; hal tersebut semata-mata lantaran keterbatasan logika saya sebagai manusia biasa yang masih mencari apa sih tujuan hidup saya sebenarnya?



*

Podcast Keluar Rumah dibawakan oleh saya, Cepy, merupakan podcast yang membahas sisi lain kultur dan kebiasaan masyarakat daerah sekitar ketika saya keluar rumah; kegiatan yang sebenarnya malas saya lakukan.

Klik di sini untuk mendengarkan langsung di platform Spotify.

----

Credits: Musik yang dipakai di episode ini adalah "Sweeter Vermouth" karya Kevin MacLeod (incompetech.filmmusic.io). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

28 March 2020

5 Hal yang Berubah Ketika Coronavirus (COVID-19) Menyerang



Baru dua pekan Coronavirus atau COVID-19 menyerang Indonesia, lama-lama saya merasa stres juga. Tradisi salaman dan cipika-cipiki tiba-tiba jadi hal yang tabu, suasana sekitar kita yang mendadak sepi, anjloknya kondisi ekonomi, bahkan tukang sayur dan pedagang-pengusaha dari sektor non formal pun langsung terdampak oleh virus ini.

Di Podcast Keluar Rumah Episode 2 kali ini, saya coba membahas apa saja sih kultur-kultur atau kebiasaan-kebiasaan yang saya rasakan berubah ketika Coronavirus (Covid-19) menyerang kehidupan kita?



*

Podcast Keluar Rumah dibawakan oleh saya, Cepy, merupakan podcast yang membahas sisi lain kultur dan kebiasaan masyarakat daerah sekitar ketika saya keluar rumah; kegiatan yang sebenarnya malas saya lakukan.

Klik di sini untuk mendengarkan langsung di platform Spotify.

----

Credits: Musik yang dipakai di episode ini adalah "Sweeter Vermouth" karya Kevin MacLeod (incompetech.filmmusic.io). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

25 March 2020

Pernikahan di Solo: Pengalaman Menghadiri Undangan di Solo


Pertengahan tahun 2019 lalu kami menghadiri undangan pernikahan sahabatnya istri ke Solo, Jawa Tengah. Solo adalah tujuan yang belum pernah kami kunjungi, sehingga kami sekaligus bervakansi singkat ke sana menghirup suasana baru setelah saya ada tugas kantor ke luar kota pada empat hari sebelumnya. Kereta yang kami tumpangi berangkat pukul 11.30 dari Stasiun Senen dan tiba di Solo sekitar pukul sembilan malam.

Esok paginya, dari hotel kami sudah bersiap-siap berangkat ke acara resepsi yang dijadwalkan dimulai pukul sembilan. Sekitar pukul delapan lewat kami pergi ke sana.




Setibanya kami di sana suasana masih sepi. Para undangan belum banyak yang datang. Kami foto-foto dulu di beberapa spot yang menurut kami unik khas ala pernikahan adat Jawa. Setelah mengamati satu per satu undangan menghampiri meja tamu untuk mengisi buku tamu, baru kami ikut-ikutan ke sana.

Tidak Ada Prasmanan di Resepsi Pernikahan Orang Solo

Ini adalah pertama kalinya saya jauh-jauh menghadiri undangan pernikahan sampai ke Solo, sebelumnya paling jauh juga ke Jakarta atau daerah-daerah yang masih berada di Jawa Barat. Sehingga saya sudah memprediksi akan ada semacam pengalaman baru yang bisa saya bawa pulang dari sana.

Pelayan Menuangkan Teh Manis ke Dalam Gelas untuk Para Undangan

Hal baru yang pertama saya temukan dari acara pernikahan orang Solo adalah tidak ada prasmanan di sini. Kursi-kursi undangan ditata rapat-rapat, terdiri dari 2 sayap yang saling menghadap. Di antara sayap kerumunan kursi tersebut terbentang karpet merah seperti acara peragaan busana untuk jalur kedua mempelai dan keluarganya berjalan ke pelaminan.



Dua-tiga saf kursi paling depan diperuntukkan khusus keluarga kedua mempelai, adapun undangan umum ditempatkan di kursi-kursi belakangnya. Pada setiap jarak tertentu, ditempatkan meja kecil khusus untuk meletakkan gelas-gelas teh manis. Siapa pun bebas untuk mengambilnya, jika sudah habis, para pelayan dengan sigap meletakkan gelas-gelas teh manis baru.

Kalau kata istri, undangan pernikahan di Solo ini juga sebenarnya menjadi wisata budaya bagi kami, karena baru pertama kali dia merasa dimuliakan sebagai tamu.

Menu Makanan Dihidangkan Satu Per Satu

Tradisi piring terbang.
Demikian istilah yang saya ketahui kemudian. Tradisi piring terbang, yaitu makanan demi makanan mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup dihantarkan satu per satu ke tangan masing-masing tamu, sangat memanjakan dan memuliakan kami sebagai tamu undangan, terlebih bagi kami yang membawa anak kecil.

Hidangan Pembuka Berupa Sup Matahari

Kami tinggal datang, menulis nama di buku tamu, sudah boleh dan dipersilakan duduk manis di kursi yang tersedia banyak dan juga dipersilakan menikmati teh manis hangat.

Kontras sekali dengan jamaknya pernikahan di Jabodetabek yang lebih sering mengusung konsep standing party dengan durasi resepsi hanya dua jam demi efisiensi biaya sewa gedung, sehingga untuk menghadiri undangan saja, kami harus berkompetisi dengan tamu-tamu lain, dulu-duluan menyerobot antrean lantaran takut kehabisan makanan di gubukan.

Hidangan Utama

Orang-orang kota dalam kesehariannya seolah disengaja untuk bersaing sikut-sikutan hingga harus melahirkan pemenang dan pecundang, bahkan di pesta pernikahan orang. Hidupnya gak mau banget rugi.

Keluarga Kedua Mempelai Menari Bersama

Karena Ayah mempelai laki-laki berasal dari Batak, di penghujung acara resepsi terdapat acara menari bersama. Sepertinya lumayan lama mereka nari-nari bareng, hampir 15 menit, mulai dari tarian tor-tor hingga tarian maumere, yang menghadirkan kemeriahan di akhir acara resepsi.

Keluarga dan Kerabat Kedua Mempelai Menari Bersama

Perihal seluk beluk pernikahan di Solo dan perbedaannya dengan tata cara resepsi pernikahan di sekitar Jabodetabek ini beberapa tahun silam ternyata pernah diulas oleh teman saya yang memang asli kelahiran Solo. Dan baru tahun kemarin saya melihat sekaligus membuktikannya secara langsung. Saya sadari betul, perbedaan kultur dan budaya itu begitu indah sekaligus menimbulkan kesan abadi sampai hari ini.[]

*

Dengarkan juga versi podcast-nya di Podcast Keluar Rumah Episode 1:


Podcast Keluar Rumah dibawakan oleh saya, Cepy, merupakan podcast yang membahas sisi lain kultur dan kebiasaan masyarakat daerah sekitar ketika saya keluar rumah; kegiatan yang sebenarnya malas saya lakukan.

Klik di sini untuk mendengarkan langsung di platform Spotify.

----

Credits: Musik yang dipakai di episode ini adalah "Sweeter Vermouth" karya Kevin MacLeod (incompetech.filmmusic.io). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License